Showing posts with label kesusahan. Show all posts
Showing posts with label kesusahan. Show all posts

Monday, 26 September 2011

Disleksia: Penyebab Masalah Belajar Pada Anak

      Setiap anak-anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memproses informasi dan pelajaran. Ada yang bisa memproses dengan mudah, dan ada yang mengalami masalah yang mungkin cukup besar untuk dilaluinya di sekolah formal yang umum. Masalah-masalah yang terjadi tersebut sering kali tidak disadari oleh orang tua maupun guru-guru mereka di sekolah. Disleksia adalah salah satunya.

Pengertian Disleksia
      Banyak yang tidak mengerti atau bahkan belum mengenal apa itu Disleksia. Baiklah, kita mulai dari definisinya Disleksia (Inggtis: dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis.
      Kata disleksia berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- ("kesulitan untuk") dan λέξις lexis ("huruf" atau "leksikal"). Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.

Wednesday, 3 August 2011

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Cerita Singkat
            Kisah dimulai dengan kehidupan Muluk dan sang ayah, Makbul. Sudah dua tahun Muluk lulus dari bangku kuliah, tapi selama itu, Muluk masih saja menganggur. Padahal ia ingin sekali punya pekerjaan yang bisa ia banggakan pada sang ayah.
Suatu hari, Muluk tanpa sengaja memergoki anak jalanan yang sedang mencopet. Muluk pun berkenalan dengan pencopet cilik itu, Komet, namanya. Berawal dari perkenalan dengan Komet, Muluk akhirnya tahu bahwa masih banyak anak-anak sebaya Komet yang berprofesi sebagai pencopet. Tak cuma berkenalan dengan pencopet-pencopet cilik, Muluk juga berkenalan dengan Jarot, bos para anak-anak jalanan pencopet ini. Selama ini Jarot mengorganisir anak-anak jalanan pencopet ini dengan rapi, bahkan ia membaginya dalam 3 kelompok, pencopet angkot, pencopet mall dan pencopet pasar.
Melihat kehidupan lain anak-anak jalanan, muncul ide di kepala Muluk. Ia menawarkan diri pada Jarot untuk mengelola keuangan para pencopet cilik ini dan mendidik mereka. Untuk itu, Muluk meminta imbalan 10% dari hasil mencopet.

Kedekatan Muluk dengan para pencopet cilik ini, lama-lama membuat hati Muluk tergerak untuk mengubah nasib anak-anak jalanan ini. Ia pun mengajak dua temannya, Syamsul dan Pipit untuk bersama-sama mendidik para anak-anak jalanan dan mengubah pola pikirnya agar tak lagi jadi pencopet.

Tuesday, 2 August 2011

Gerakan Perempuan di Indonesia

     Ketika masa prakemerdekaan, gerakan perempuan di Indonesia ditandai dengan munculnya beberapa tokoh perempuan yang rata-rata berasal dari kalangan atas, seperti: Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya’ Dien dan lain-lain. Mereka berjuang mereaksi kondisi perempuan di lingkungannya. Perlu dipahami bila model gerakan Dewi Sartika dan Kartini lebih ke pendidikan dan itu pun baru upaya melek huruf dan mempersiapkan perempuan sebagai calon ibu yang terampil, karena baru sebatas itulah yang memungkinkan untuk dilakukan di masa itu. Sementara Cut Nya’ Dien yang hidup di lingkungan yang tidak sepatriarkhi Jawa, telah menunjukkan kesetaraan dalam perjuangan fisik tanpa batasan gender. Apapun, mereka adalah peletak dasar perjuangan perempuan kini.
     Di masa kemerdekaan dan masa Orde Lama, gerakan perempuan terbilang cukup dinamis dan memiliki bergaining cukup tinggi. Dan kondisi semacam ini mulai tumbang sejak Orde Baru berkuasa. Bahkan mungkin perlu dipertanyakan: adakah gerakan perempuan di masa rejim orde baru? Bila mengunakan definisi tradisonal di mana gerakan perempuan diharuskan berbasis massa, maka sulit dikatakan ada gerakan perempuan ketika itu. Apalagi bila definisi tradisonal ini dikaitkan dengan batasan a la Alvarez yang memandang gerakan perempuan sebagai sebagai sebuah gerakan sosial dan politik dengan anggota sebagian besar perempuan yang memperjuangkan keadilan gender. Dan Alvarez tidak mengikutkan organisasi perempuan milik pemerintah atau organisasi perempuan milik parpol serta organisasi perempuan di bawah payung organisasi lain dalam definisinya ini.
      Namun definisi baru gerakan perempuan tidak seketat ini, hingga dapat disimpulkan di masa Orba pun telah muncul gerakan perempuan. Salah satu buktinya adalah munculnya diskursus seputar penggunaan istilah perempuan untuk menggantikan istilah wanita.
      Gerakan perempuan di masa rejim otoriter Orba muncul sebagai hasil dari interaksi antara faktor-faktor politik makro dan mikro. Faktor-faktor politik makro berhubungan dengan politik gender orba dan proses demokratisasi yang semakin menguat di akhir tahun 80-an. Sedangkan faktor politik mikro berkaitan dengan wacana tentang perempuan yang mengkerangkakan perspektif gerakan perempuan masa pemerintahan Orba. Wacana-wacana ini termasuk pendekatan Women in Devolopment (WID) yang telah mendominasi politik gender Orba sejak tahun 70-am, juga wacana femnisme yang dikenal oleh kalangan terbatas (kampus/akademinis) dan ornop.

Monday, 1 August 2011

Masalah Sampah Bandung

      Pertumubuhan penduduk di kota kini semakin sulit terbendung. Berbagai masalah yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang memadati kota-kota bersar. Salah satunya sampah. Semakin banyak penduduk, maka akan semakin banyak pula konsumsi akan suatu barang atau produk.
      Konsumsi produk kebutuhan sehari-hari mau tidak mau menghasilkan sisa-sisa produk, yaitu sampah. Bukan hanya sampah alam dan sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga dan sampah spesifik juga tidak tertangani dengan baik. Kapasitas sampah rumah tangga yang dihasilkan semakin meningkat, baik jumlah maupun ragamnya. Meski begitu, pengelolaan sampah selama ini masih belum memadai dan cara pengolahannya pun belum profesional. Mau tidak mau, hal ini menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Jika tidak dibarengi dengan fasilitas pengolahan sampah atau tempat pembuangan sampah yang memadai, maka akan menyebabkan penumpukan sampah di dalam kota, baik itu di pasar-pasar, pinggir jalan, dan sungai. Tentu saja hal itu akan

Konsekuensi yang Tidak diharapkan dari Perubahan

Konsekuensi yang tidak diharapkan dari perubahan biasanya berupa dalam bentuk kebudayaan dan teknologi. Contohnya, kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia sering tidak terkendali, cara berpakaian gaya barat yang serba terbuka oleh para perempuannya banyak ditiru oleh remaja perempuan Indonesia, yang mana menurut kebudayaan di Indonesia itu merupakan hal yang tidak baik, karena tidak menutupi aurat. Selain itu juga moderenisasi di bidang teknologi memiliki konsekuensi yang tidak di harapkan. Salah satunya adalah Internet. Internet merupakan kemajuan di bidang teknologi yang sangat bermanfaat. Namun di balik banyak kelebihannya, ada dampak negative yang juga dibawanya. Di Internet kita dapat mengakses segala Informasi, termasuk konten-konten terlarang seperti pornografi dan kekerasan. Konten tersebut dapat diakses oleh setiap orang, termasuk anak-anak. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk pada perkembangan anak. Resiko untuk melakukan kekerasan dan pelecehan seksual pun semakin besar. Hal tersebut merupakan konsekuensi yang tidak diharapkan. Seharusnya pemerintah lebih memerhatikan perkembangan dan masuknya informasi ke Indonesia, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kekerasan akibat menonton film maupun game dengan kekerasan, dan plecehan seksual akibat meonoton film porno.

Ketimpangan Ekonomi di Dunia Ketiga

Pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga sering tidak diikuti oleh pola pemerataan ekonomi yang baik. Karena pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga, sering terjadi ketimpangan ekonomi. Meskipun menurut statistic pemerintah telah terjadi pertumbuhan ekonomi yang baik, namun tetap saja masih banya rakyat yang serba kekurangan. Hal ini dikarenakan kesejahteraan atau kemajuan yang tercapai tersebut hanya terjadi pada penduduk yang sudah kaya, sedangkan penduduk yang masih miskin tetap pada kemiskinannya. Akibatnya penduduk yang masih tertinggal tersebut harus membayar biaya-biaya social untuk mendapatkan kebahagiaannya. Biaya-biaya social itu berupa mahalnya kebutuhan hidup yang harus mereka dapatkan dikarenakan, semakin banyak pertumbuhan penduduk, maka semakin banyak juga kebutuhan akan bahan pokok. Sehingga menyebabkan semakin langkanya kebutuhan tersebut. Selain itu juga biaya social yang harus dibayar adalah berupa fasilitas-fasilitas seperti sekolah juga semakin mahal. Semakin tinggi kualitas sekolah, semakin mahal juga biaya sekolahnya. Sehingga yang bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas hanya lah mereka yang kaya. Sedangkan rakyat yang miskin hanya mendapatkan pendidikan yang berkualitas rendah.

Link Within

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ads

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan